RSS

Mencari Kasih Sayang dari Suami (2)

25 Dec

Oleh: Asy Syaikh Salim Al ‘Ajmy hafizhahullah

Sungguh berkhidmatnya seorang laki-laki kepada keluarganya, kepada istri dan anak-anaknya, dan upayanya memenuhi keperluan mereka termasuk hal yang akan menguatkan hubungannya dengan mereka. Dan akan membuatnya nampak berwibawa dan berkepribadian tangguh di mata mereka.

Hammad bin Zaid berkata: Ayyub As Sikhtiyaaniy berkata padaku: teruslah berdagang di pasar, karena sungguh seorang laki-laki itu akan senantiasa nampak terhormat di mata saudara-saudaranya selama keluarganya tidak membutuhkan orang selainnya.

Umar bin Khoththob rodhiyallaahu’anhu berkata: aku kagum dengan seorang laki-laki yang nampak seperti seorang anak kecil di antara anggota keluarganya. Namun ketika ia dibutuhkan, ia menjadi seorang laki-laki dewasa.

Sufyan berkata: aku mendengar Abu Sinan berkata: sudah seharian ini aku telah memerah domba dan mengambil satu wadah air untuk memberi minum keluarga. Dan Abu Sinan pernah berkata: sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat untuk keluarganya.

Kemudian, sesungguhnya sikap seorang laki-laki yang memenuhi tanggungjawabnya akan membuat sikap tersebut juga tertanam pada diri anak-anaknya. Ketika anak-anak melihat ayah mereka menjalankan tanggungjawabnya, maka mereka akan mewarisi sifat terpuji itu.

Betapa banyak orang yang datang mengeluhkan anak-anaknya dan sikap acuh-tak-acuh mereka terhadap dirinya serta ketidakpedulian mereka terhadap kondisi keluarga. Kalau saja lembaran-lembaran kehidupan itu dibalik ke masa lalu, niscaya engkau akan melihat orang ini telah menghabiskan tiga perempat umur hidupnya dengan melarikan diri dari rumah. Dan seperempat sisanya ia habiskan untuk tidur atau melibatkan diri dalam pertengkaran dengan istri.

Maka bagaimana dia hendak memetik buah yang manis padahal yang ia tanam adalah jenis buah yang pahit.

Sebagaimana anggur tidak akan dapat dipetik dari duri, orang-orang yang brengsek pun tidak akan menurunkan keturunan-keturunan yang sholeh.

Anak-anak haruslah merasakan keberadaan ayah. Dan ketahuilah bahwa masalah ini adalah soal hutang dan pinjaman. Maka barangsiapa yang menelantarkan, ia akan ditelantarkan. Dan barangsiapa yang tidak pernah menanamkan kewibawaan dirinya di hati orang, maka ia tidak akan pernah memiliki wibawa. Kalau saja tidak pernah ada para lelaki yang menahan diri di rumah untuk mendidik putra-putra mereka, mereka tidak akan pernah menghasilkan pria-pria yang dapat dibanggakan.

Sungguh sekian keluarga begitu gaduh dengan berbagai problema. Suara rintihan dan raungan meninggi dan hal itu tidaklah muncul kecuali dengan sebab hilangnya tanggungjawab dari para lelaki.

Bukankah suatu hal yang tercela, engkau mendapatkan seorang laki-laki yang dinikahkan dengan seorang anak perempuan yang telah dididik sedemikian rupa agar ia terhindar dari tempat-tempat mencurigakan, dan agar laki-laki ini bisa bersikap sayang kepadanya sehingga anak perempuan itu pun dapat bersandar kepada suaminya, akan tetapi kemudian laki-laki tersebut menelantarkan istrinya seperti sepotong kain usang di pojok ruangan yang tak terhiraukan.

Bukankah merupakan suatu hal yang dituntut dalam agama dan akal sehat, bahwa seharusnya laki-laki itu memperlakukan perempuan tersebut dengan cara yang sama dengan yang ia kehendaki dari seorang pria asing yang menjadi suami putrinya?

Bagaimana bisa seorang laki-laki -yang menghormati dirinya sendiri- bisa membiarkan istrinya keluar masuk seolah-olah ia adalah seorang suruhan yang bisa diperintah macam-macam, dan ia sampai mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat serta ikut masuk komunitas-komunitas pria, atau bahkan ia sampai membelikan pakaian dalam untuknya.

Lalu apa perannya dalam hidup ini?

Apakah ia cacat dan harus duduk di kursi roda…, lumpuh.., sakit?

Tidak.., sesungguhnya dia sedang berleha-leha dan bersenang-senang di dunia malam!

“Betapa banyak keburukan yang tak ada penghalang bagiku

Untuk melakukannya kecuali rasa malu.”

“Kalaulah seorang pemuda dikaruniai wajah yang buruk rupanya

Maka perbuatan apapun akan dikerjakan terserah dirinya.”

Dan sesungguhnya salah satu akibat ketidakpedulian ini adalah sikap sebagian orang yang membuat istri mereka terdorong melakukan kesalahan. Karena ia hidup bersama istrinya sebagai seorang teman, bukan sebagai seorang suami. Ia tidak punya peran sama sekali bahkan untuk membiayai kebutuhan rumah tangga sekalipun.

Di sini, kalau iman di hati lemah, hal itu akan menyebabkan kehancuran. Karena kalau pribadi-pribadi ini sudah sejajar, akan muncullah sikap membanding-bandingkan dan menggeliatlah fitnah. Seorang wanita cerdas berkata: tidak ada seorang wanita pun yang lalai menjaga kehormatannya, melainkan itu disebabkan oleh dosa seorang pria yang telah melalaikan kewajibannya”.

Seorang laki-laki yang tidak mau duduk bersama istrinya, tidak memberinya kasih sayang.

Seorang laki-laki yang kehadirannya tidak dirasakan oleh istrinya sebagai laki-laki yang bisa dijadikan tempat bersandar. Bahkan sang istri lebih baik dari sang suami dalam mengurus rumah tangga dan keluarga. Bukankah itu dapat menyebabkan hancurnya keluarga dan terjadinya penyimpangan, kecuali mereka yang dijaga oleh Allah?

Dan tidaklah penyimpangan yang kalian lihat kecuali disebabkan oleh seorang laki-laki yang begadang sampai pagi untuk bersenang-senang dan berhura-hura. Sedangkan anak dan istri tidak ada yang menjaga dan mengawasi. Maka terjadilah peristiwa-peristiwa mengerikan itu. Maka hendaknya setiap pria bertakwa kepada Allah jangan sampai menempatkan istri dan anggota keluarganya ke negeri kehancuran.

Klub-klub, tempat-tempat kongkow, lokasi-lokasi cuci mata, apa isinya? Tidak ada faidah yang didapat berupa kisah berharga, tidak juga majlis yang nyaman. Justru hanya membuang-buang waktu hingga sampai keesokan hari untuk disia-siakan begitu saja sebagaimana waktu hari ini dan kemarin juga disia-siakan. Bagaimana lagi kalau majelis itu isinya adalah kegembiraan atas bencana yang menimpa orang-orang muslim sendiri, atau gosip tentang aib yang sudah Allah tutup atas mereka?

Keluarga kita telah menahan diri mereka di rumah demi mendidik kita, hingga kita tumbuh dan mampu memikul tanggungjawab untuk diri sendiri dan orang-orang yang telah Allah jadikan berada di bawah tanggungan kita. Maka kalau kita menginginkan keadilan, inshof dan kenyataan yang tak terbantahkan, maka kita harus menahan diri kita di rumah untuk beberapa waktu demi melahirkan generasi yang mampu menghadapi hidup dan segala hal tak terduga yang sedemikian dahysat di dalamnya pada saat meraungi berbagai peristiwa yang menyakitkan nanti.

Ini hanya soal kebiasaan. Sebagaimana yang dikatakan:

“Kusabarkan hari demi hari hingga berlalu

Dan terus kucoba bersabar atas waktu yang terus melaju.”

“Diri itu tergantung bagaimana orang memperlakukannya

Kalau dituruti ia akan terus berkeinginan, kalau tidak maka ia kan berusaha lupa.”

Sumber : Majalah Akhwat Vol.1/1431/2010 www.akhwat.or.id

 
Leave a comment

Posted by on December 25, 2010 in Rumah Tangga Tanpa Problema

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: