RSS

Wanita Menurut Bangsa Yunani

07 Dec

Yunani digolongkan sebagai bangsa pendahulu yang paling tinggi  dan paling banyak peradabannya. Jika kita perhatikan manusia pada masa awal kehidupan mereka, kta mendapati keadaan wanita dimasa tersebut berada pada puncak kemunduran dalam segala arena kehidupan. Sehingga dia tidak memiliki  kedudukan yang mulia di masyarakat. Bahkan muncul suatu keyakinan bahwa sesungguhnya wanita adalah penyebab penderitaan dan musibah bagi seseorang, (sehingga tidak heran) dia adalah makhluk yang menduduki tempat yang paling rendah.

Dengan keadaan seperti ini wanita terpuruk ketingkat kehinaan, kerendahan yang paling dasar dan tidak ada kemuliaan bagi mereka. Karena derajat tersebut maka mereka (kaum laki-laki) tidak duduk bersama perempuan di satu meja makan. Terlebih lagi jika mereka mempunyai tamu-tamu asing, wanita diperlakukan seperti budak dan pelayan.

Di sisi orang-orang Yunani berikutnya (generasi berikutnya), aturan-aturan tersebut menjadi berubah dimana akibat arus syahwat, perangai kebinatangan dan hawa nafsu menarik mereka untuk memberikan kebebasan kepada wanita dalam urusan seks saja. Dalam perkara ini mereka memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada wanita tak ubahnya seperti pelacur. Akibatnya para pelacur menduduki kedudukan yang tinggi. Mereka menjadi pusat yang dikelilingi oleh aktifitas masyarakat Yunani. (Bahkan) masyarakat Yunani membuat hikayat-hikayat untuk para pelacur tersebut.

Diantara hikayat tersebut adalah mereka menjadikan Tuhan Kupid sebagai Tuhan Cinta. Ia merupakan buah hubungan antara Aprodit yang merupakan istri dari 3 Tuhan dan Aprodit ini adalah Permaisuri dari salah satu Tuhan tersebut. Karena menikah dengan Aprodit, salah satu Tuhan tersebut menjadi manusia biasa. Dari hubungan keduanya lahirlah Kupid (yang kemudian disebut) Tuhan Cinta.

Berdasarkan hikayat seperti ini, keumuman penduduk Yunani memandang ikatan perkawinan dengan pandangan yang tidak berarti dan tidak dihormati. Karen aperempuan harganya murah dan bisa diraih oleh tangan manusia yang mampu menemaninya secara terang-terangan tanpa ikatan dan tanpa pernikahan. Seperti inilah sejarah mempersaksikan bahwa bangsa Yunani menjadi rapuh disebabkan disebabkan kemunduran ini dan setelah itu tidak ada orang yang menegakkan kehormatan bangsa tersebut kembali.

sumber bacaan : Siroh Shohabiyah. Mahmud Mahdi Al-Istambuli Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi.Maktabah Slafy Press 2008

 
Leave a comment

Posted by on December 7, 2011 in An Nisa'

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: